Future

Future
Like a future

Rabu, 25 Mei 2016

Semut Berkarya

                     Tak ada orang yang NORMAL di dunia ini semua hidup dalam ambisi yang kuat, ada saat nya semua orang berada dipuncak. Seperti statitiska jari yang berawal dari jempol, telunjuk, tengah, manis, dan kelingking. Seluruh manusia akan merasakan berdiri di jari tengah yaitu titik memuncak dari jati dirinya. Percaya atau ngga percaya, itu statitiska kehidupan kita. Dimulai dari :
Jempol hidup kita masih bagaikan Timezone bermain, bermain, canda tawa bahkan hanya rengekan kecil yang ada disetiap agendanya. Selanjutnya Telunjuk hidup dimana bagaikan masih membuka mata, masa masa remaja, mulai merasakan cinta, mencari kedewasaan, dan yang terpenting disaat hidup kita dijari telunjuk ini mulai mencari apa jati diri kita. Lalu Tengah dimana hidup kita sudah memiliki pijakan, bagaikan terjun di atas jutaan sandwich, semua apa yang telah kita cari telah kita temukan, mulai kita tekuni, kembangkan, pahit manis bukan menjadi rasa yang berbeda mereka akan terasa sama rasanya. Akhir hidup kita ditentukan dari titik ini, kita akan dihadapkan dengan 2 lorong hitam. Gelap, namun disalah satu lorong itu ada jalan yang akan membawa kita dalam keberuntungan, lindungan, dan kebahagiaan. Dan lorong satunya tentunya akan membawa kita dalam kerugian, celaka, bahkan penyesalan yang sangat mendalam. Manis,asam,asin,tawar akan berubah seketika menjadi getirnya pahit.
                        Selanjutnya jari Manis, diatas titik ini kejayaan yang kita bawa dari jari tengah akan terasa redup, kita sadar kita bukan dambaan orang banyak lagi, kita bukan ujung tombak yang lancip lagi. Bahkan hanya seberkas karya kita lah yang akan mendongkrak kewibawaan kita. Dan diakhirnya di titik Kelingking. Sekarang lihat jari kelingking kita masing-masing. Dialah yang paling kecil, jarang menjadi peran utama jika kita gunakan. Hidup kita sama seperti dia, menua, tak kan ada lagi keindahan diwajah kita. Bahkan senyuman yang selalu menggaris tak kan seindah dulu lagi, takkan ada yang bisa kita sombongkan. Kita hanya kerangka lama yang hampir rapuh. Kadang aku ingin bertanya, apa hidup sesingkat ini ya Allah. Aku berharap entah puluhan tahun kedepan jika aku sudah berada di bersama si kelingking, aku bisa tersenyum membaca tulisanku ini, tak ada rasa yang harus kusesali.
Sekarang dimanapun titik jari yang kau tapaki, jangan ada rasa penyesalan, bangkit, bangkit, bangkit, Allah akan tetap menerima taubat walau nafas masih berhembus di sesaknya kerongkongan kita.

“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini membukakan pintu dengan seluas-luasnya bagi seluruh orang yang berdosa dan melakuan kesalahan. Meskipun dosa mereka telah mencapai ujung langit sekalipun. Seperti sabda Rasulullah Saw:

“Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian.” (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan ia menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab sahih Jami’ Shagir – 5235)